Apa Itu Cardiac Arrest? Berikut Penjelasan serta Perbedaannya dengan Serangan Jantung

Berikut ini penjelasan mengenai apa itu cardiac arrest atau henti jantung. Namun, cardiac arrest berbeda dengan serangan jantung. Dalam artikel ini, membahas penyebab, gejala, serta risiko dari cardiac arrest.

Dikutip dari heartfoundation.org.uk , cardiac arrest atau henti jantung adalah kondisi saat jantung seseorang berhenti berdetak. Karena hal ini, otak dan organ akan kekurangan oksigen yang membuat orang tersebut tidak sadarkan diri dan tidak bernapas secara normal, bahkan bisa sampai berhenti bernapas. Dikutip dari healtline.com , detak jantung manusia dikendalikan oleh impuls listrik.

Namun, saat impuls listrik ini berubah pola, maka detak jantung juga menjadi tidak teratur. Detak jantung sendiri dikenal dengan sebutan aritmia. Umumnya detak jantung memiliki iramanya sendiri, ada yang cepat dan ada pula yang pelan.

Cardiac arrest terjadi ketika irama detak jantung atau saat impuls listrik tidak ada. Cardiac arrest kerap berakibat fatal jika tidak segera mengambil tindakan atau langkah yang tepat. Dikutip dari heart.org , banyak masyarakat yang salah memahami cardiac arrest dengan serangan jantung

Serangan jantung adalah kondisi dimana jantung berhenti berdetak dan hal ini disebabkan oleh penyumbatan yang menghentikan aliran darah ke jantung. Serangan jantung mengacu pada kematian jaringan otot jantung karena hilangnya suplai darah. Permasalahan tersebut disebabkan masalah sirkulasi atau penyaluran.

Serangan jantung cukup serius dan terkadang berakibat fatal. Sementara, cardiac arrest adalah kondisi dimana jantung berhenti berdetak dan penyebabnya adalah sistem impuls kelistrikan jantung yang tidak berfungsi. Kemudian, jantung berhenti berdetak scara benar.

Lalu, fungsi pemompaan jantung dihentikan. Cardiac arrest atau henti jantung sendiri dapat menyebabkan serangan jantung. Pada serangan jantung, kematian dapat terjadi secara cepat jika langkah yang tepat tidak segera diambil.

Sementara, henti jantung dapat dipulihkan jika CPR dan defibrillator dilakukan. CPR dan defibrillator dilakukan untuk mengejutkan jantung dan mengembalikan irama jantung normal dalam beberapa menit. Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) merupakan kombinasi tindakan pernapasan bantuan dari mulut ke mulut dan kompresi dada.

CPR membantu menjaga sirkulasi darah dan oksigen ke otak seseorang yang jantungnya telah berhenti berdetak. CPR dilakukan hingga jantungnya dapat dihidupkan kembali. Namun, CPR saja tidak mengembalikan irama jantung dengan normal.

Selain CPR, ada juga Compressions Only CPR (COCPR). COCPR adalah tindakan CPR tanpa bantuan napas yang dikenal sebagai 'hands only CPR'. Defibrillator eksternal otomatis (AED) adalah perangkat elektronik portabel yang dapat mendiagnosis irama jantung abnormal.

Irama jantung abnormal ini dapat menyebabkan cardiac arrest. AED mungkin dapat mengobati irama jantung yang tidak normal dengan memberikan kejutan listrik. Kejutan listrik ini diberikan untuk mencoba 'memulai kembali' irama detak jantung ke ritme normalnya.

Tindakan ini dikenal sebagai defibrilasi. Defibrillator eksternal otomatis (AED) hanya akan diberikan pada situasi dan kondusi yang benar benar diperlukan. Artikel ini merupakan bagian dari

KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Previous Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *